Hidup Tentram di Atas Gunung

September 30, 2020

 

Pinterest

Bertahan dengan kondisi seadanya, menyadarkannya bahwa hidup bukan sekedar tentang seberapa banyak harta yang dimiliki, dan bukan tentang berapa kesenangan yang diperoleh. Banyak hal-hal kecil yang bisa dinikmati dan disyukuri.

Bu Ade, begitu sapaan orang-orang kepadanya. Seorang wanita paruh baya yang rela meninggalkan kenyamanan dan berjauhan dari pelukan orang tua serta saudara di kampung halamannya demi membangun dan mendalami sebuah makna kehidupan, bersama orang yang ia cintai.

Awal tahun 2017 ia menetap di desa Cisadon, desa terpencil di atas gunung, daerah Jawa Barat. Desa yang hanya ditinggali 20 keluarga. Sepi, sunyi, tentram, mungkin bisa menggambarkan suasana desa tersebut. Rumah warga pun berjauhan antar satu sama lain.

Ia memilih untuk mendirikan rumah di tengah hutan yang dikelilingi pohon-pohon besar. Bersama suami dan kedua anaknya ia tinggal di sebuah rumah berdinding dan beralaskan kayu yang sangat sederhana. Pekarangan rumah ia tanami bunga warna warni kesukaan putrinya. Halaman belakang rumah ia tanami sayur mayur dan buah-buahan untuk panganan sehari-hari.

Di bawah rumahnya terdapat kebun kopi dan sungai kecil, gemericik air jernih mengalir sehingga tampak bebatuan di dasar sungai. Suara kambing dan ayam yang ia pelihara menemani kesehariannya.

Cerita kehidupannya dan keluarga di atas gunung

Siang hari dirinya sedang memberantas tumbuhan-tumbuhan liar di kebun kopi, yang jaraknya tak jauh dari rumahnya, seseorang datang dan meneriakkan namanya, lantas ia segera menghampiri. Ia jamu tamu di sebuah bale bambu di teras rumah, dengan setoples keripik pisang yang ia olah dari hasil kebun di halaman belakang rumah serta seteko air putih menemani.

Ia bercerita tentang bagaimana perjuangannya hijrah dari kampung halamannya ke desa yang ia tinggali. Restu ibunya sudah ia kantongi, sanak saudara pun melepasnya dengan hati ikhlas. Sesampainya di desa, ia bersama suami sengaja membangun dan tinggal di rumah yang jaraknya berjauhan dengan tetangga lainnya. Alasannya karena ia ingin lebih mendekatkan diri dan memperbanyak ibadah kepada yang Maha Kuasa, dan tidak ingin terlalu banyak melakukan hal yang kurang bermanfaat.

Kebun kopi menjadi topangan mata pencahariannya dan suami. Desiran angin gunung dan teriknya matahari, terkadang pula turun hujan tak menghalangi semangatnya untuk mengurusi kebun kopi miliknya setiap hari. Ia harus menunggu satu tahun sekali untuk bisa memanen pohon kopinya. Hasil panennya pun tak seberapa, hanya cukup untuk biaya membeli bibit dan sisanya ditabung untuk keperluan sekolah anak-anaknya.

Sehari-hari ia hanya tinggal berdua dengan suami. Tetangga pun berjauhan, hanya seekor kucing yang menemaninya di rumah saat suami pergi bekerja. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah dan mensyukuri setiap hal yang ia lewati setiap harinya.

Anak-anaknya bersekolah di desa bawah, dan hanya pulang saat hari libur. Ia dan suami berjuang dan bekerja keras untuk bisa melihat kedua anaknya mendapatkan pembelajaran yang layak. "Saya mah bersyukur anak-anak mau sekolah di bawah sana. Nggak apa-apa jauh sama anak, biarin mereka belajar dan cari ilmu supaya sukses. Biar punya masa depan yang lebih baik," tuturnya.

 

You Might Also Like

53 Comments

  1. Banyak yang bisa diambil dari seorang Bu Ade ini. Berani pergi meninggalkan kampungnya ketempat lain dan mau mendekatkan diri sama Sangpencipta.

    Jadi punya gambaran dari kisah itu, soalnya pengen punga rumah di desa

    BalasHapus
  2. Kebawa suasana desanya pas ngebaca🥺 adem banget dibacanya❤️

    BalasHapus
  3. berasa ada di dalam ceritanya. keren!!!

    BalasHapus
  4. berasa ada di dalem desanya pas baca, keep writing Al !!

    BalasHapus
  5. wow kisah yang sangat inspiratif sekali👍🏻

    BalasHapus
  6. Salut ma keluar bu ade, apalagi anaknya relay bersekolah jauh

    BalasHapus
  7. bagus tulisannyaa! sukakkk

    BalasHapus
  8. Jauh dari keramaian kota yg penuh gemerlap cahaya. Untuk menghilangkan stress sejenak

    BalasHapus
  9. Tinggal di gunung pasti ada enak gak enaknya yaaa

    BalasHapus
  10. inspiratif sekali, makasih ceritanya

    BalasHapus
  11. ga peduli jarak, pendidikan tetep nomer 1. kangen deh bu Ade

    BalasHapus
  12. Ceritanya keren, inspiratif, dan edukatif

    BalasHapus
  13. Inspiratif sukaaa ka, jadi pengin ke cisadon

    BalasHapus
  14. kerennn dehh inspiratif bangett ceritanya!!

    BalasHapus
  15. Bagus tulisannya, kisah Bu Ade perlu diteladani

    BalasHapus
  16. Walaupun meninggalkan kampung dan memutuskan tinggal di desa, Bu Ade dan suami tetap berharap anaknya dapat pendidikan yang layak dan sukses kelak. Keren 🥺

    BalasHapus
  17. Wah inspiratif banget Bu Ade ini

    BalasHapus
  18. Tulisannya bagus, jadi merasakan kisah Bu Ade yang sangat inspiratif

    BalasHapus
  19. inspiratif bgt cerita bu adeee, semoga diberikan kesehatan terus

    BalasHapus
  20. Inspiratif banget kisahnya. Semangat alya. Semoga bisa berbagi kisah inspiratif selanjutnya

    BalasHapus
  21. aku setuju karena udara pegunungan bikin sejuk dan hati tentram. selain itu lingkungannya yg ga terlalu ramai, jd bikin betah

    BalasHapus